UKT Tinggi Psikologi Islam Picu Mahasiswa Undur Diri

Dr. Reza Fahmi, M.A., duduk di ruang kerjanya di Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, Minggu (01/06/2025). Ia menyampaikan keprihatinan atas tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Program Studi Psikologi Islam yang menyebabkan sejumlah mahasiswa terpaksa mengundurkan diri atau tidak bisa melanjutkan studi karena kendala finansial.

Suarakampus.com– Tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada Program Studi Psikologi Islam UIN Imam Bonjol Padang memicu keresahan mahasiswa dan berdampak pada keberlanjutan studi sejumlah pihak. Kondisi tersebut berlangsung sejak beberapa semester terakhir dan masih belum menemukan solusi hingga hari Senin (02/06).

Ketua Program Studi Psikologi Islam, Reza Fahmi menyebut, persoalan UKT tinggi menjadi gangguan serius bagi mahasiswa. “Ini persoalan yang cukup mengganggu,” ujarnya.

Dosen tersebut menyampaikan, mahasiswa kerap menunda bahkan mengurungkan niat mendaftar ulang karena kendala biaya. “UKT yang tinggi membuat mereka hampir mundur,” katanya.

Pihak program studi, tambah Reza, menerima laporan dari mahasiswa terkait kesulitan membayar setiap semester. “Kami dapat laporan, mereka tidak mampu bayar saat daftar ulang,” tuturnya.

Ia menyebutkan, jumlah mahasiswa yang mengundurkan diri memang kecil tetapi tetap tercatat setiap semester. “Asumsinya sekitar lima sampai enam orang tiap semester,” ucapnya.

Reza menjelaskan, ada pula mahasiswa yang benar-benar tidak bisa melanjutkan studi karena kendala finansial. “Ada satu atau dua orang yang putus kuliah,” ungkapnya.

Menurut pengakuannya, kasus tersebut terjadi secara berulang dan belum mendapat penanganan sistemik dari pihak kampus. “Belum ada intervensi yang signifikan,” tegasnya.

Pihaknya berharap ada evaluasi sistem pembayaran atau peninjauan ulang UKT khususnya bagi mahasiswa Psikologi Islam. “Kami ingin kebijakan yang lebih adil,” katanya.

Reza menambahkan, perlu adanya transparansi dan kepekaan dari pengambil kebijakan dalam menentukan besaran UKT. “Ini menyangkut masa depan akademik mahasiswa,” jelasnya.

Ia menekankan, beban biaya jangan sampai menjadi penghalang utama mahasiswa menyelesaikan pendidikan. “Kami tidak ingin ada yang berhenti hanya karena uang,” pungkasnya. (ver)

Wartawan: Mardatillah (Mg), Siti Ulami (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Bengkel Kata Siapkan Jurnal Ilmiah Perdana Lewat Bimtek

Next Post

Prodi Psikologi Islam Usulkan Peninjauan UKT

Related Posts