Kamar Kosong

Ilustrasi kamar tidur yang rapi dan tenang dengan jendela terbuka. Sumber: Najwalin Syofura.

Oleh : Muhammad Adam
(Jurusan Manajemen Bisnis Syariah)

Sejak kakaknya, Ardi, pindah kerja ke Surabaya, kamar di ujung lorong itu jarang sekali dibuka. Bukan karena angker atau menyimpan rahasia, tapi karena Ibu ingin semuanya tetap seperti semula.

“Biar rapi. Nanti kalau Ardi pulang, kamarnya masih sama,” kata Ibu setiap kali Raka berniat meminjam meja belajarnya.

Awalnya Raka biasa saja. Toh Ardi hanya pindah kota, bukan menghilang. Mereka masih sering berkabar lewat pesan singkat. Tapi lama-kelamaan, kamar itu terasa aneh. Bukan menakutkan hanya sepi. Terlalu sepi untuk ukuran rumah yang biasanya ramai oleh suara musik Ardi atau bunyi keyboard komputernya.

Suatu sore, Ibu meminta Raka mengambil koper lama di kamar Ardi karena akan dipakai untuk menghadiri acara keluarga. Mau tak mau, pintu kamar itu akhirnya dibuka.

Ruangan itu bersih, hanya sedikit berdebu. Seprai masih terpasang rapi. Rak buku penuh dengan buku kuliah teknik milik Ardi. Di meja, ada pigura kecil berisi foto mereka berdua saat masih SD tersenyum dengan seragam merah putih.

Raka berdiri cukup lama di ambang pintu.

Dulu, ia dan Ardi sering bertengkar soal hal-hal sepele: remote televisi, charger ponsel, atau siapa yang lebih dulu mandi. Tapi sejak Ardi pindah, Raka justru merindukan suara protesnya yang keras.

Ia mengambil koper di bawah tempat tidur. Saat menariknya keluar, sebuah map jatuh. Isinya beberapa kertas lamaran kerja dan catatan kecil tulisan tangan Ardi.

Raka tak sengaja membaca salah satunya:

“Kerja di luar kota memang berat. Tapi kalau aku tidak mencoba sekarang, kapan lagi? Semoga Raka nanti juga berani mengejar apa yang dia mau.”

Raka terdiam.

Selama ini ia hanya melihat kepindahan Ardi sebagai hal biasa sekadar pindah kerja. Ia tak pernah benar-benar memikirkan bahwa keputusan itu pasti sulit. Meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan demi masa depan.

Kamar itu tiba-tiba terasa berbeda.

Bukan kosong karena ditinggalkan, tapi kosong karena sedang menunggu bab berikutnya.

Malamnya, Raka menghubungi Ardi lewat panggilan video. Untuk pertama kalinya, ia bertanya bukan soal kiriman oleh-oleh atau cerita kota baru, tapi soal bagaimana rasanya hidup sendiri.

Ardi tertawa kecil. “Capek. Kadang sepi. Tapi ya, harus dijalani.”

Raka mengangguk pelan. Ia mulai memahami sesuatu: tumbuh dewasa berarti berani keluar dari “kamar” yang nyaman.

Beberapa hari kemudian, Raka meminta izin pada Ibu untuk menggunakan kamar itu sebagai tempat belajar sementara. Bukan untuk menggantikan Ardi, tapi untuk merawat ruang yang pernah penuh perjuangan itu.

Ibu akhirnya mengizinkan.

Kamar itu tak lagi terkunci. Setiap sore, jendelanya dibuka. Udara segar masuk. Meja belajar kembali terpakai. Buku-buku tetap di tempatnya, tapi kini ada tambahan buku milik Raka di sampingnya.

Saat Ardi pulang beberapa bulan kemudian, ia tersenyum melihat kamarnya tetap terjaga.

“Kamarku jadi hidup lagi,” katanya.

Raka menggeleng. “Bukan. Kamarnya memang tidak pernah mati. Cuma sempat kosong saja.”

Dan Raka sadar, tidak semua yang kosong berarti kehilangan. Kadang, kosong hanyalah jeda ruang untuk seseorang tumbuh, sebelum kembali dengan cerita baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

ART Indonesia-AS Menyinggung Kedaulatan dalam Perdagangan

Next Post

Warna dalam Cermin

Related Posts