Si Wakil Rakyat

(Sumber: Isyana/suarakampus.com)

Harvizaq Rafkhi

(Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN IB)

Pengkhianatan.

Semua janji tinggal pengkhianatan. Janjimu seakan-akan hanyalah umpan untuk menarik suara kami—rakyat yang dianggap tak paham permainan politikmu. Tinggallah kata-katamu yang manis di awal, tanpa bukti nyata dalam tindakan.

Perlahan-lahan kubuka kelopak mataku, setelah sekian lama tertutup kain. Samar-samar kupandang sekeliling dengan rasa kaget. Seorang pria bertubuh besar, kekar bak petinju kelas berat, menjulang di hadapanku. Matanya menatapku tajam, seakan siap mencabut nyawaku kapan saja ia mau.

Aku mencoba berdiri dari kursi, tapi tubuhku terikat erat—tak bisa bergerak sedikit pun. Pria berbadan besar itu mendekat dengan raut wajah mengerikan. Jantungku berdegup kencang; ludahku tertelan dalam-dalam saat aku memejamkan mata.

Tamparan.

Tangannya yang kasar menghantam pipiku dengan kekuatan penuh. Sakit. Aku, hanya seorang remaja lugu, tak bisa berbuat apa-apa selain meringis menahan nyeri. Belum reda rasa pedih itu, ia sudah melanjutkan serangan—kali ini ke hidungku. Darah.

Cairan merah mengucur deras dari lubang hidungku, menetes ke lantai.

Tiba-tiba, dari belakang si raksasa itu, muncul seorang lelaki lain. Berpakaian rapi dengan setelan jas premium, rambut tersisir sempurna, dan jam tangan emas berkilau di pergelangan tangan kirinya—persis seperti gambaran jutawan kelas atas.

Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia. Tak berselang lama, ingatanku kembali. Pria di belakang si raksasa itu tak lain adalah Gara Wijayanto – nama yang sedang naik daun saat ini. Seorang politikus yang dianggap masyarakat sebagai pahlawan pembangunan kota. Mereka memujanya karena dianggap telah membawa kesejahteraan untuk kotaku.

Langkahnya perlahan mendekat. Tangannya yang bercincin emas menyentuh daguku, mengangkat wajahku dengan paksa. “Kamu tahu siapa saya?” bisiknya dingin. “Ya, saya adalah orang yang dianggap berjasa bagi kota ini. Masyarakat bodoh itu tak tahu apa yang sebenarnya kurencanakan.”

Napasku tersengal saat jarinya mencengkeram rahangku lebih keras. “Hanya kamu yang tahu rencanaku. Dan kamu… hampir menggagalkan semuanya!” Senyumnya merekah sebelum tinjunya menghantam wajahku dengan brutal.

“Kau memang pria bangsat! Mengaku wakil rakyat, tapi malah ingin menghancurkan rakyat. Aku akan membongkar semua rencanamu!” teriakku dengan nada tegas.

Sebelum sempat melanjutkan, sepatu kulitnya sudah menghantam perutku. Terpelanting ke belakang, seluruh tubuhku berdenyut nyeri. Air mata tak tertahankan menetes di pipi.

“Sok jagoan kau ya? Ingat, kau cuma mahasiswa cupu yang tak paham politik!” hardiknya sambil menyeringai. “Jangan sok suci ikut campur urusan besar!”

Jauh dari sebelum kejadian, Sore itu, sepulang dari kampus, aku tak sengaja melewati depan balai kota. Dari kejauhan, kulihat walikota sedang berdiskusi serius dengan beberapa pengawal bertubuh besar. Sesuatu tentang raut wajah mereka membuatku ingin tahu lebih jauh…

Aku mengendap diam-diam, mencoba menyimak pembicaraan mereka. Prasangkaku kuat – Gara Wijayanto ternyata benar-benar mengorupsi dana pembangunan jembatan di kotaku. Dari obrolan itu, kudapatkan informasi mengejutkan: dari total anggaran 5 miliar rupiah, Gara berencana mengambil 4,5 miliar untuk dirinya sendiri, sementara 500 juta sisanya untuk menyogok pengawalnya. Segera kurekam semua pembicaraan itu dengan ponselku.

Namun nasib berkata lain. Salah seorang pengawal mencurigaiku. Matanya yang tajam berhasil menangkap keberadaanku yang sedang menguping. Tanpa pikir panjang, aku langsung melesat menuju motorku. Kukendarai dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota.

Sial! Dua mobil pengawalnya mulai mengejar. Kupercepat motorku, tapi jelas mobil mereka lebih unggul. Wuush! Wuush! Dengan nekat, kuselip di antara kendaraan lain, tak peduli risiko kecelakaan. Mereka memang pengemudi handal.

Lalu muncul ide. Kuarahkan motorku masuk ke gang-gang sempit. Strategiku berhasil! Mobil mereka terlalu besar untuk masuk. Tapi… di ujung lorong, jantungku hampir berhenti. Salah satu mobil mereka sudah menunggu!

BOOM!

Aku tak sempat mengerem. Motor yang kukendarai menabrak bemper mobil itu dengan keras. Tubuhku terlempar beberapa meter, lalu… gelap.

Ketika siuman, kusadari seluruh tubuhku sudah terikat erat. Kembali lagi ke ruangan interogasi yang mengerikan itu. Si bangsat itu tak berhenti menghajarku dengan pukulan. “Aarrgh!” teriakku menahan sakit yang tak tertahankan. PLAK! Pukulan terakhirnya menghantam pelipisku. Dunia kembali menghitam.

Angin dingin membangunkan kesadaranku. Mataku perlahan terbuka. Ya Tuhan! Aku terbaring di tepi jurang! Sebelum sempat bangkit, tubuhku sudah didorong ke dalam kegelapan. “Pergi lah, dia sudah mati!” ujar salah satu dari mereka.

Tapi nasib berkata lain. CRACK! Tanganku berhasil meraih ranting pohon yang tumbuh di sisi tebing. “Tolong! Tolong!” teriakku sekuat tenaga, tapi hanya gema yang menjawab.

Putus asa mulai menyergap. Tiba-tiba…

“Ada orang di bawah?” suara itu seperti malaikat penyelamat.

“Iya, Pak! Tolong! Saya di sini!”

Dengan sigap, pria itu melemparkan tali dari bak mobilnya. Tanganku yang sudah lemas tiba-tiba menemukan kekuatan terakhir. Perlahan, aku berhasil ditarik ke atas. Hidupku terselamatkan.

“Eh, kenapa kamu bisa ada di bawah sana? Hampir saja nyawamu melayang!” tanya pria itu dengan wajah penuh keheranan.

“Panjang ceritanya, Pak. Nanti akan kuceritakan semuanya,” jawabku sambil menahan rintih kesakitan. Tubuhku gemetar menahan derita.

“Baiklah, naiklah ke mobilku. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit,” tawarnya penuh perhatian. Dengan susah payah, kuterima bantuannya.

Sepanjang perjalanan, kuceritakan semua yang terjadi. Pria itu mengangguk-angguk serius. “Kamu punya bukti untuk melaporkan si wakil rakyat bangsat itu?” tanyanya.

“Ada, Pak. Aku merekam semua pembicaraan mereka,” jawabku sambil memegang erat ponsel di sakuku.

“Baik! Setelah dari rumah sakit, kita langsung ke kantor polisi,” ujarnya dengan tekad bulat. Aku hanya bisa mengangguk pelan, rasa sakit masih menggerogoti.

Di UGD, para dokter sigap menangani luka-luka di tubuhku. Lebam dan goresan menghiasi hampir seluruh tubuh. Butuh dua hari perawatan intensif sebelum dokter akhirnya mengizinkanku pulang. “Lukanya sudah mulai membaik,” ujar dokter dengan senyum melegakan.

Ditemani bapak penyelamat itu, kami pun menuju kantor polisi. Dengan detail, kujelaskan semua kejahatan yang dilakukan Gara Wijayanto, lengkap dengan bukti rekaman pembicaraannya dan bekas luka di sekujur tubuhku. Petugas yang mendengarkan laporanku mengangguk serius. “Kami akan segera menindaklanjuti,” janji sang polisi.

Tepat tengah malam, operasi penggerebekan dilancarkan. Gara ditangkap di kediamannya tanpa bisa melawan. Si bangsat itu pun digiring ke kantor polisi untuk proses hukum lebih lanjut.


“Kau punya aspirasi mulia untuk kota ini, tapi nafsu serakahmu telah mengubur semua kebaikan itu. Jabatan dan harta rakyat kau rampas, mengubahmu menjadi monster yang tak kenal belas kasih.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Konflik Sawit Rugikan Negara, 1126 Kasus Tercatat

Next Post

Aku si Hitam

Related Posts