Oleh : Aldi Syukron
(Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam)
Di telinga Roni, David, dan Darul, suara itu masih tersimpan rapi seperti rekaman pita kaset tua. Suara kepakan sayap yang berat, disusul bunyi ngok-ngok yang nyaring dan magis dari dahan pohon meranti setinggi langit. Itulah Rangkong, sang penjaga langit Desa Lubuk Gaung.
Tahun 2013 adalah musim panas yang abadi bagi mereka bertiga.
“Dengar! Itu dia!” seru David sambil menunjuk pucuk hutan yang menghijau pekat di seberang sungai. Mereka bertiga berdiri di atas batu-batu kali yang besar, telanjang dada, dengan air sungai yang begitu bening hingga bayangan awan pun terlihat jelas di dasarnya.
Darul biasanya langsung melompat ke air, menciptakan kecipak segar, sementara Roni sibuk memasang telinga. Bagi mereka, Lubuk Gaung bukan sekadar tempat tinggal; itu adalah istana hijau di mana air sungai bisa diminum langsung dengan tangkupan tangan, dan hutan adalah atap yang tak pernah bocor memberikan keteduhan.
“Nanti kalau kita sudah besar, kita bangun rumah di pinggir sungai ini ya,” celetuk Roni waktu itu, yang hanya dibalas tawa renyah oleh kedua sahabatnya.
Namun, waktu ternyata bukan hanya mendewasakan manusia, tapi juga menghancurkan kenangan.
Tahun 2018, mereka bertiga memutuskan merantau. Ada keinginan besar untuk mengubah nasib, meninggalkan kampung yang mulai gaduh oleh desas-desus “emas hitam” dan “tanah yang akan dibeli perusahaan”. Mereka pergi dengan janji akan pulang ke Lubuk Gaung yang sama.
Januari 2026. Sebuah mobil bak terbuka membawa mereka melintasi jalan setapak yang dulu rimbun.
Roni menatap keluar jendela dengan mata kosong. Tak ada lagi terowongan hijau dari tajuk-tajuk pohon yang saling bersentuhan di atas jalan. Yang ada hanyalah hamparan tanah merah yang gersang, bekas kupasan alat berat yang tampak seperti luka menganga di tubuh bumi.
“Ini… benar jalan ke desa kita?” tanya David lirih. Suaranya tenggelam oleh deru mesin ekskavator yang meraung-raung di kejauhan.
Mereka berhenti di tepi sungai, tempat mereka biasa melompat dari atas batu dulu. Darul turun pertama kali. Ia terpaku melihat air yang kini berwarna cokelat pekat, kental oleh lumpur dan limbah sisa pencucian tambang. Batu-batu besar tempat mereka menjemur diri dulu sudah tertimbun sedimen.
Tak ada lagi anak-anak yang berenang. Tak ada lagi ikan seluang yang mematuk-matuk kaki.
“Lihat ke atas,” bisik Roni.
Mereka mendongak. Hutan rimbun di seberang sungai itu sudah rata. Pohon meranti tempat burung Rangkong bersarang telah berubah menjadi tumpukan kayu lapuk dan lubang-lubang galian yang dalam.
Suasana begitu bising. Bukan oleh suara alam, melainkan oleh mesin-mesin besi yang tak kenal lelah mengeruk isi bumi. Mereka berdiri di sana, tiga pria dewasa yang merasa asing di tanah kelahiran sendiri.
“Aku tidak mendengar suaranya lagi,” kata Darul memecah kesunyian di antara mereka.
“Suara apa?” tanya David.
“Rangkong. Sejak kita sampai tadi, aku hanya mendengar mesin.”
Roni menatap langit yang kini terasa lebih panas dan berdebu. Ia teringat nyanyian Rangkong tahun 2013 yang dulu begitu angkuh dan indah. Kini, ia sadar bahwa suara yang mereka dengar tiga belas tahun lalu itu mungkin adalah nyanyian terakhir—sebuah salam perpisahan dari alam yang kalah oleh keserakahan.
Lubuk Gaung yang mereka cintai telah mati, dikubur hidup-hidup oleh uang dan solar. Mereka pulang, tapi tak menemukan jalan kembali ke rumah.