Tommy Pertanyakan Arah Pembangunan Energi di Sumbar

Potret PLTP Muara Labuh. Sumber : Niaga.Asia

Suarakampus.com– Kebutuhan energi masyarakat di sejumlah wilayah dinilai belum menjadi orientasi utama dalam pembangunan sektor energi, sementara konsumsi energi industri terus meningkat, Jumat (14/8).

Tommy mencontohkan Kampung Teguh yang menurutnya masih belum memiliki jaringan listrik PLN dan sinyal.

“Kondisi ini tentu kontras dengan keberadaan pembangkit dan proyek energi di Sumbar,” jelasnya.

Ia menyebut Sumatera Barat memiliki PLTU batu bara dan proyek geothermal. Menurutnya, keberadaan proyek energi tersebut perlu dilihat kembali dari sisi siapa yang menjadi penerima manfaatnya.
“Listrik-listrik ini buat siapa?” ujar Tommy.

Tommy mengatakan konsumsi energi masyarakat Indonesia berada di bawah lima persen. Sementara itu, kata dia, kebutuhan energi terbesar berasal dari korporasi industri yang mencapai lebih dari 60 persen.

Menurut Tommy, kondisi tersebut menunjukkan pembangunan energi tidak sekadar berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat.

“Kepentingan industri juga menjadi bagian besar dalam pembangunan sektor energi,” ungkapnya.

Ia juga mengkritik narasi ketahanan energi yang menurutnya dapat menjadi legitimasi bagi pembangunan proyek-proyek energi.

“Pembangunan tersebut membutuhkan lahan dan dapat memisahkan masyarakat dari sumber-sumber agraria mereka,” ucapnya.

Tommy mencontohkan pembangunan proyek industri di sejumlah wilayah seperti Gunung Kalang di Solok Selatan.

“Kebutuhan lahan untuk proyek industri dapat berujung pada perampasan tanah masyarakat,” ujarnya.

Ia memandang kebijakan energi perlu memastikan masyarakat agar tidak hanya menjadi pihak yang terdampak dari pembangunan.

“Manfaat pembangunan energi juga harus dirasakan masyarakat yang berada di sekitar sumber daya dan proyek,” pungkasnya. (rar)

Wartawan : Irfannov Zacky Aji (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Mahasiswa Baru Serbu Toko Perabotan, Lemari dan Kasur Jadi Barang Prioritas utama

Next Post

Perusakan Lingkungan Tak Cukup Dibayar, Calvin Soroti Lemahnya Penegakan

Related Posts