Aku Kaca yang Retak

Oleh: Nabilla Oktavia

(Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Imam Bonjol Padang)

Krak! Pintu dari kayu jati itu berderak pelan, sepasang mata sayu menatap fokus pada jendela usang milikku, ternyata Bi Inam yang mengantarkan setengah porsi bubur ayam yang dipesan Bunda tadi pagi.

“Bi, Ayah sudah pulang?,” tanyaku sambil tetap scroling medsos.

“Belum dek,” jawab Bi Inam singkat.

Ah!, sudah kukira, rumah ini benar-benar seperti neraka dunia, semenjak Ayah tertangkap basah tengah asyik berpesta ria dengan kekasih lamanya di saat itulah Bunda semakin tak karuan sikapnya. Begitu banyak luka tak berdarah yang aku tahan sendiri, terkadang jalan sesat yang harus aku tempuh.

Kring.. kring….

Handphone buatan lokal itu berdering kencang meninggalkan pesan singkat dari Hana, sahabat karibku semasa SMA. “Woi bocil, kemana sih lu?, Riko nanyain mulu nih,” ungkapnya.

Melihat nama Riko tertera jelas dipesan itu membuat jantungku berdebar tak karuan, sudah lama semenjak perayaan kelulusan SMA, aku tak pernah menghubunginya lagi. Entah mengapa lelaki yang sempat menjadi rivalku di kelas sebelas kembali hadir dalam pikiran, seperti info dari Hana, Riko mendapatkan jalur beasiswa di kampus nomor satu di negeri ini. Hal ini bukan tanpa alasan, kecerdasan dan pikirannya yang tajam dengan kritis itulah yang membawa seorang

Riko Hadi Wijaya menjadi salah satu Mahasiswa Hukum, berbeda jauh dariku, memang benar semasa sekolah peringkat satu sampai tiga tak pernah lepas dariku. Namun, hancurnya hubungan Ayah dan Bunda membuatku harus mengubur dalam-dalam untuk menjadi seorang dokter, awalnya berbagai tekanan merajalela dalam hidup, semuanya serba salah hingga aku berkawan dekat dengan geng setan di kota kejam ini.

Pesan dari Hana kembali muncul

“ Rahma, lu kenapa?, gak balas pesan gue!”
Dengan terpaksa aku mengetikkan huruf demi huruf untuk menjadi sebuah kalimat singkat yang dikirim ke Hana.

“Iya Han, gua baik-baik aja,” ketikku singkat.

Selang beberapa menit, aku memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Hana, karena semuanya akan menyakitkan. Hana yang sama pintarnya denganku akan menjadi seorang Dokter beberapa bulan lagi, seharusnya dirku juga seperti Hana, tapi semuanya hancur luluh lantah, rasanya inginku obrak abrik wajah perempuan yang begitu tega membuat keluargaku terluka hebat seperti ini.

“ Rahma, Rahma,” suara Bunda dari luar kamar, aku sengaja tak menjawab panggilan Bunda, sebab aku tengah berusaha membendung bah air mata yang segera meluncur. Di kamar mandi, aku menumpahkan semua kekecewaan yang terjadi, teramat berat ialah melihat Bunda harus banting tulang untuk mencari sesuap nasi. Dan karena Ibu dari Ayah yang tak lain adalah Nenekku yang melarang Ayah dan Bunda berpisah, jika ditanya aku lebih memilih berpisah dengan Ayah daripada harus melihat Bunda seperti ini.

Di depan cermin yang berkabut aku melihat raga dan jiwa bak ibarat kaca yang retak. Semuanya lenyap dan terkorbankan hanya untuk meminta Sofian Lubis tetap bersama Ibuku. Ya, Sofian Lubis ialah Ayah sekaligus lelaki yang mungkin tak akan pernah aku anggap lagi. Sudah! sudah cukup cerita kusam ini harus segera ditamatkan. Semakin hari semakin sesak dadaku melihat dunia yang serba tak adil hingga Devil Club merupakan jalan keluar yang harus aku nikmati.
Di atas Dipan berumur tujuh tahun itu, tergeletak dua lembar formulir pendaftaran mahasiswa baru disalah satu universitas swasta Kota Banjarmasin. Hatiku biasa saja tak ada gairah apalagi bahagia melihat dua lembar kertas ini.

“ Bi, Bi Inam!”

“iya dek” tanya perempuan seusia Bunda itu.

“ bilangin sama Bunda, saya tidak ingin kuliah, jangan memaksa apapun!” jelasku sinis

“ Tapi,” ujar Bi Inam.

“ Tidak Bi, saya tidak mau!,” jawabku ketus.

Bi Inam berlalu tanpa membantah sedikitpun, lagi-lagi handphone buntut ini kembali berdering menampilkan pesan dari Dava, ketua geng yang sedang aku ikuti sekarang, katanya akan ada pesta besar-besaran untuk perayaan Cinta dengan kekasih barunya itu. “Ah! Yang benar saja, aku masih pusing dengan minuman yang lelaki jalang itu berikan, masa iya aku harus mati perlahan bersama geng setan ini!” omelku dalam hati.

Berselang enam puluh detik, Dava mengirim pesan agar semua anggota geng harus datang tanpa terkecuali. Aku kembali menggerutu sendiri di kamar. Sebenarnya, masih tersisa sedikit iman didadaku. Namun, kecil kemungkinan untuk kembali menjadi Rahma yang seperti dulu, semuanya aku lakukan untuk balas dendam dengan apa yang telah terjadi.

Malam hari, tepat jam delapan malam, aku bergegas keluar dari pintu kamar melewati taman belakang agar Bunda ataupun Bi Inam tak melihatku. Kali ini berat langkah dan hatiku menemui raja dari Devil Club di kota ini, sepanjang jalan aku masih menyeka air mata yang tak kunjung berhenti mengalir, kiri kanan semua orang tampak bahagia, aku sendiri merasa sepi ditengah keramaian. Di saat itulah terbesit untuk kembali seperti dahulu. Menjadi Rahma yang taat beribadah. Namun aku terlalu lemah untuk berubah terlalu kuat untuk biadab.

“ Mbak, silahkan turun,” kata Mas Ojol.

Aku mengibas jaket levis keluaran tiga tahun yang lalu, melangkah pasti menuju dunia malam yang sebenar resah untuk dinikmati. Aku menatap mantap kedepan tanpa menghiraukan hiruk pikuk di sekeliling. Sesampainya di tempat itu, hatiku kembali berkecambuk semua bercampur rasa was-was, sedih dan sedikit marah membuatku tak tahan dengan ruangan ini. Sesekali Dava menyodorkan botol minuman yang membuatku tidak bangkit semalam hingga dengan penuh emosi aku melemparkan botol minuman keras itu dan jatuh berkeping dilantai.

Aku berlari keluar sebelum Dava dan pengawal yang sama iblis dengan dirinya kembali menangkapku. Aku benar-benar hancur tak pernah terpikir jalan kehidupan serumit ini, dari hidup yang mulus tanpa kerikil sedikitpun, semua bermula dari pertengkaran Ayah dan Bunda membuat aku melarikan diri dijalan yang salah. Aku terus manangis tersedu, dengan langkah gotai seorang pemuda yang tak asing lagi bagiku tiba-tiba menghampiri. ya, itu ialah Riko lelaki yang sempat menjadi teman semasa SMA dulu. Dia tampak menyapaku. Tapi dengan kasar aku mendorong lelaki itu.

“ Diam Kau Rik, aku tak butuh omong kosongmu! dasar Iblis!”

“Rah.. Rahma dengarkan aku!,” ucap Riko.

“Lepaskan aku, hidupmu indah kecerdasanmu berguna, tak sepertiku yang sudah hancur berkeping. Semuanya retak. sudah! sudah cukup, pergi kamu Riko,” ujarku. “Diam!, semuanya bisa terselesaikan jangan bodoh jadi orang, emosi tak akan membuatmu terlihat hebat. “Hentikan semua ini, ikut denganku,” bentak Riko tegas.

Aku berjalan di depan Riko sedangkan ia senantiasa berada satu meter di belakangku, Riko membawaku ke salah satu Musala di tempat pertama kali aku bertemu dengan dirinya dan pertama kalinya aku ikut kajian bersama dengan Hana kala itu. Aku menatap sayu pada lelaki mapan itu, dia tampak meneteskan air mata, aku mengalihkan mataku dari pandangannya, seseorang memelukku dari belakang, ternyata itu Hana, yang sedang membawa hijab untukku. Semenjak bergabung dengan Dava dan anak buahnya aku tak segan membuka aurat, mungkin inilah sebabnya beberapa hari yang lalu Hana memberitahu jika Riko selalu menanyakan keberadaanku.

“Rahma, dengarkan aku, kita sama-sama kuat, kamu tak perlu berjalan dengan tersesat, karena aku ataupun Riko bersedia menangung semua bebanmu, sudah ya. Kita akan sama-sama mencari jalan keluarnya, Jauh dari Tuhan tak akan membuat kamu tenang, percayalah aku telah menganggapmu sebagai saudara,” ujar Hana sambil memasang jilbab dikepalaku.

Aku tak menjawab ataupun merespon ucapan Hana, air mata ini benar-benar pecah aku merasa telah salah jalan. “Akan kah Tuhan memaafkan aku?,” gumamku.

“Rahma, aku tak pernah menganggapmu biadab, hanya lingkunganmu yang tak tepat, aku berjanji akan membawamu kembali seperti dulu, tak usah cemas Ayah dan Bundamu akan seperti dulu hanya waktu yang perlu menjawabnya. Tugasmu hanya kembali ke jalan yang lurus dan Insya Allah semuanya akan membaik” jelas Riko pelan.


Aku memeluk erat Hana, malam ini aku kembali merasa berharga dan bernilai kembali. Berkat dua orang yang selalu bersama denganku. Aku berusaha keras untuk bangkit dari segala dosa yang pernah dengan sengaja aku lakukan, dan sekarang aku mulai mengerti Tuhan akan menolong hamba-Nya, jika hamba-Nya yakin dengan kekuasaan dan kasih sayang-Nya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Seorang Dosen Positif Covid-19, FDIK Berlakukan WFH

Next Post

Rehat

Related Posts

Tenbi Love Story

Oleh: Annisa Juita Muhdi (Mahasiswa Tadris Matematika) Tenbi begitu anak-anak Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Imam…
Selengkapnya
Total
0
Share