Suarakampus.com– Banjir akibat hujan lebat yang turun tanpa henti telah merendam permukiman warga di Topoh Malalak dan mengakibatkan 16 orang dinyatakan hilang. Bencana yang terjadi pada Sabtu (13/12) tersebut memaksa sebagian warga mengungsi sementara kerugian material terus bertambah.
Salah seorang warga terdampak, Ibu Nurhayani, mengungkapkan air mulai masuk ke rumah-rumah secara perlahan dengan ketinggian yang terus meningkat. “Ketinggian air meningkat sedikit demi sedikit hingga membuat kami kesulitan,” ujarnya.
Ibu Nurhayani menjelaskan, sebagian warga di daerah berisiko tinggi memilih mengungsi ke lokasi yang lebih aman untuk menghindari risiko lanjutan. “Keselamatan menjadi alasan utama warga meninggalkan rumah,” jelasnya.
Warga tersebut menambahkan, kondisi tempat tinggal warga tidak seragam karena ada yang memilih tetap di rumah dan ada yang tinggal di pos pengungsian. “Saat hujan deras kembali turun, warga langsung mengungsi kembali,” tambahnya.
Ibu Nurhayani menguraikan berbagai kerugian yang dialami warga, mulai dari sawah rusak hingga barang rumah tangga hanyut terbawa arus. “Sawah rusak, masjid sulit digunakan, dan banyak barang terbawa arus,” ujarnya.
Pemerintah setempat telah memberikan bantuan pokok berupa sembako dan dukungan listrik untuk aktivitas warga terdampak. “Bantuan difokuskan pada kebutuhan paling mendesak,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, korban jiwa yang telah ditemukan berjumlah tiga orang, terdiri dari dua anak dan satu orang dewasa. “Korban lain masih dalam tahap pencarian,” jelasnya.
Ibu Nurhayani mengisahkan, hampir seluruh warga sempat mengungsi ketika banjir pertama kali melanda dengan kondisi yang sangat parah. “Keadaan mulai membaik dan sebagian warga kembali untuk memperbaiki rumah,” ujarnya.
Pos pengungsian sementara didirikan di masjid dan rumah warga lain yang masih layak huni untuk melindungi korban. “Tempat itu juga digunakan sebagai posko penyimpanan stok makanan,” jelasnya.
Warga menyesalkan tidak adanya peringatan dini dari pihak berwenang setempat sebelum banjir terjadi. “Tidak ada peringatan sama sekali dari pihak penanggung jawab,” tandasnya.
Ibu Nurhayani berharap musibah serupa tidak terulang lagi di Topoh Malalak maupun daerah lain yang rawan banjir. “Harapan kami agar bencana ini tidak terjadi lagi,” harapnya. (ver)
Wartawan: Aisyah Nurlaili Arinda (Mg), Randhi Vahrozi Hutabarat (Mg)