Kartini Memerdekakan Perempuan dengan Tulisan

Sosok Ketua Prodi SPI, Yulfira Riza (sumber: Yulfira Riza)

Suarakampus.com- Raden Ajeng (RA) Kartini berjuang memerdekakan perempuan melalui tulisannya dengan menyebarkan kondisi perempuan Jawa yang tertindas pada akhir abad ke-19. Hal ini disampaikan oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Imam Bonjol Padang, Yulfira Riza.

“Melalui surat-suratnya, Kartini berkeinginan memerdekakan pemikiran kaum perempuan pada zamannya,” tuturnya kepada wartawan suarakampus.com, Rabu (21/04).

Lanjutnya, Kartini menginginkan perempuan pada masanya tidak hanya fokus pada urusan domestik, namun juga bidang lainnya. “Ia ingin perempuan juga terlibat di wilayah publik, seperti yang diperoleh kaum laki-laki pada masa itu,” katanya.

Yulfira mengungkapkan keberanian Kartini sebagai kaum perempuan yang terjajah untuk berpikiran maju, itulah yang membuat Estella Zeehandelaar tertarik menjadi teman korespondensinya. “Mereka dipertemukan saat Kartini menulis pada majalah mingguan Belanda De Hollandsche Leile,” terangnya.

Sambungnya, saat itu Kartini menulis pada majalah terkait pengalaman pahit perempuan Jawa yang sering termarginalkan. “Melalui tulisan Kartini berharap ada pelanggan majalah tersebut ada yang bersedia bertukar kabar dengannya,” ucapnya.

Ia melanjutkan dari tulisan Kartini tersebut Estelle Zeehandelaar, dengan penanya Stella akhirnya membalas surat tersebut. “Dari sinilah mereka menjalin korespondensi sebagai sahabat pena,” tambah Yulfira.

Yulfira menjelaskan sebagai generasi muda bisa meneladani sikap Kartini yang tidak pantang menyerah, dengan menempuh pendidikan dan belajar dari sejarah bisa secara virtual. “Sebagai generasi milenial saat ini, kita bisa mempelajari dan memahami sejarah secara virtual,” jelasnya.

Ia berharap agar setiap perempuan bisa mendapatkan haknya untuk merdeka menentukan masa depan, serta merdeka dalam berpendapat dengan berkiprah di ranah publik. Apalagi dalam ajaran Islam perempuan adalah sosok yang istimewa dengan batasannya. “Semoga saat perempuan memperoleh hak tersebut mereka juga tidak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan,” tutupnya. (ulf)

Wartawan: Rinta Farianti

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Perempuan Sering Dilema dengan Dua Pilihan

Next Post

Upaya Memaksimalkan Amalan di Bulan Ramadan

Related Posts
Total
0
Share