Oleh: Harvizaq Rafkhi (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)
Kenangan, hanyalah kenangan yang dipikirkan akalku. Tentang Saup raup diantara keindahan kita bersama yang telah menjadi sejarah yang takkan terulang kembali, dikalaku ingat tentang dirimu.
Seperti hari biasanya, Aku bekerja didepan monitor yang terus menyala dari pagı tadi, membuat dokumen penting terhadap klien yang terus-menerus mendesakku untuk tetap bekerja keras. Suatu perusahaan yang megah bertingkat-tingkat, berdindingkan kaca. Lantainya terbuat dari marmer yang mewah yang diimpor dari luar negri, serta balkonnya yang dihiasi oleh sayup-sayup lampu yang tergantung rapi. Sehingga memberikan desain yang elegan.
Ruangan ini telah menjadi tempatku menopang kehidupan, yang telah lama merantau di negri orang. Ini Semua ku dapatkan bukan tanpa sebab. Ini berkat kerja keras saat menempuh pendidikan dan doa dari kedua orang tua.
Kali ini Aku merasakan kesepian, tak sama dangan hari sebelumnya. Sudah lama Aku tidak melihat tanah halaman rumahku, semenjak tujuh tahun yang lalu. Pikiranku saat ini terbayang senyuman seseorang yang telah lama Aku tak memandangnya.
Dialah teman ketika Aku duduk dibangku SMA, sekaligus orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Yunita Mahesa Ayunda, itulah nama yang terus terngiang-ngiang di pikiranku. Dikala masa SMA, hanya dia satu-satunya wanita yang sangat peduli padaku. Ku kira awalnya, tidak ada wanita yang mau mendekat dan peduli padaku. Aku hanyalah seorang laki-laki kutu buku dan cupu.
Namun semua yang kubayangkan itu terpatahkan dengan kedatangan Yunita, yang membuat segala kekhawatiran dihati ini sirna seketika. Kasih sayang dan perhatian itulah sifat yang ditorehkannya kepadaku. Sehingga membuat jiwaku merasakan kenyamanan dan ketenangan dihati yang telah lama manghilang.
Sekian lama Aku tak ingat dirinya, sekarang namanya kembali mengısı pikiranku. Dalam hatı “Apakah Ini pertanda baik atau pertanda buruk yang dialamı Yunita”. Rasa pikiran yang membebani ini membuatku tak fokus mengerjakan tugas yang kutakuni. Aku berinisiatif, ketika libur kerja nanti mendatang. Aku akan pulang ke kampung halaman, dan menemui Yinta dengan memberikan surprise yang istimewa.
Kembali lagi ke meja kerjaku yang penuh dengan kesibukan tugas yang harus diselesaikan, “uuhh!” nafas legaku berhembus dengan kencang. Jam makan siang datang membatasi waktu kerjaku.
Aku memilih bersantai sejenak, menenangkan pikiranku yang terus-menerus ditumpuk dengan perasaan sepi dan rindu. Sesekali Aku membuka telpon genggamku, mencari informasi yang sedang hangat saat ini. Aku mencari kabar tantang kampung halamanku yang sudah lama ketinggalkan.
Alangkan kagetnya, Aku mendapatkan berita terbaru di kampung halamanku. Berita yang sangat mengerikan, yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Tsunami setinggi 9,2 meter melanda kampung halamanku, menyebabkan beberapa bangunan dan transportasi hanyut terbawa gelombang laut. Kejadian ini sudah terjadi sejak pukul 04.00 pagi tadi.
Terdiam, dan Air mataku mengalir membasahi baju kerjaku. Ku letakkan telpon genggamku diatas meja dan termenung dikursiku dengan meneteskan air mata.
Hatiku berkata dengan perasaan sedih, “Begitu murkakah sang Ilahi terhadap penduduk kampung halamanku? Apa dosa yang telah mereka lakukan. Sehingga kau menurunkan bencana yang mengerikan terhadap negeriku. Sekarang, semua orang yang kucintai pergi meninggalkanku disapu ombak. Lautan yang menciptakan arus yang sangat deras, membawa segala hal yang dilaluinya.
Jam makan siang selesai, waktunya kembali mengerjakann tugasku yang berat ini, namun kesedihan yang terus melanda hatiku membuat hasratku dalam bekerja keras hilang seketika. Hanya satu pikiranku, ingin kembali ke kampung halaman dan menikam rasa kesedihan dibawah bekas reruntuhan yang diratakan sang laut biru.
Langit jingga mulai menampakkan cakrawalanya, sementara sang mentari berangsur-angsur mengarah ke ufuk barat, menandakan waktu siang telah habis dan berganti dengan malam yang panjang. Jam kerja dihari ini sudah selesy. Waktunya melangkahkan kaki menuju apartemenku. Namun dimalam ini rasa ketakutan dan kesedihan selalu mengguncang pikiranku. Sehingga malamku penuh dengan air mata dan keputusasaan hidup. Tidak tidur dimalam ini, itulah hal yang pasti ku dapatkan, karena mata ini tak mau tertutup dan terlelap dengan sendirinya.
Tak terasa, malam yang panjang sudah kulalui dengan hati yang terpukul luar biasa. Fajar mulai menyingsing naik dari ufuk timur, memberikan pancaran cahayanya yang indah sehingga menghapus kegelapan dibumi ini. Kupersiapkan diriku untuk kembali bekerja, walaupun tubuh ini terasa goyah seakan-akan roboh begitu saja.
Pagi yang sama kulalui, kembali menatap layar monitor yang baru saja kunyalakan. Menjalanı pekerjaan ini terasa sangat berat, karena hati dan pikiran sedang tidak bersahabat. Waktu demi waktu ku lalui, jam makan siang kembali mengisi peristirahatanku, Aku mencoba memaksakan diriku untuk menghadap bos, untuk meminta izin kembali ke kampung halaman selama beberapa hari. Nampaknya keberuntungan berada dipihakku, bos mengizinkanku untuk menjenguk kampung halamanku. Sehabis pulang kerja, Aku memesan tiket pesawat dan keesokannya Aku mulai lepas landas ke kampung halaman.
Perjalanan yang panjang dengan memakan waktu beberapa jam berjalan dengan lancar, Aku tiba di bandara kampung halamanku dengan selamat. Lokası bandara ini cukup jauh dari kajadian tsunami. Sehingga tidak terkena dampak dari bencana yang mengerikan itu.
Mobil yang kupesan sudah sampai di bandara, sejak Aku mendarat dari tadi. Aku merasa tidak sabar melihat kampung halaman, walaupun sekarang sudah tidak layak dikatakan tempat tinggal penduduk.
Sekitar empat jam setengah, mobil yang ditumpangi melesat dijalan raya dengan kecepatan yang tinggi. Sepanjang Aku menyaksikan daerah sekitar, lewat jendela kaca mobil, Aku menyaksikan jalanan yang sepi dari pengendara dan ada beberapa jalan yang aksesnya ditutupi oleh pohon yang tumbang.
“Huhhh!!!, Aku menghela napas dalam-dalam, menghirup udara segar. Saat Aku menginjakkan kakiku didepan rumahku yang hanya tinggal puing-puing bangunan, kaki ini terasa bergetar dan ketakutan membuat bulu kudukku merinding. Angin dari arah selatan berhembus kencang menyapu tubuhku yang mati rasa ini, menandakan kampung halamanku sedang berduka.
Aku terus melangkahkan kakiku, melewati beberapa rumah yang hancur, dan tibalah didepan rumah Yunita. Aku menatap rumahnya dengan tatapan kosong dengan meneteskan air mata di pipiku. Kualihkan sedikit pandanganku disamping rumahnya yang merupakan dulunya taman yang indah, sebagai tempat kami menikmati sore dan mengerjakan tugas sekolah. Namun, kini berganti dengan lokasi yang kosong dan mengerikan.
Impianku untuk mendapatkan dirimu, nampaknya tak direstui oleh alam semesta, “ mendapatkan dirimu layaknya seperti aku menjadi seorang pelaut yang mengarungi lautan yang tak memiliki ujung, sehingga kapanpun waktunya Aku tidak dapat menggapai ujung dari lautan, meski umurku di ambang kematian “.
Namun Aku akan tetap bersyukur kepada Tuhan, karena pernah mempertemukan diriku dengan wanita hebat sepertinya, walaupun mustahil untuk mendapatkan dirinya.