Maisyarah: Wanita Sekarang Egois, Ingin Lebih Unggul Dari Pria

Maisyarah (kiri) sedang menyampaikan kuliah, ditemani Ketua Pelaksana (kanan), di Ruang 50, Gedung Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, UIN Imam Bonjol Padang. (sumber: Ketua Pelaksana, Nur Ramadhani)

Suarakampus.com-Melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan, Himpunan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam (HIMA AFI) menggelar acara Balai Gadih dengan mengangkat isu Perempuan, Kuasa, dan Cinta. Acara ini menghadirkan Maisyarah Nabila sebagai pemateri utama, di Ruang 50, Gedung Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, pada Jumat (23/05).

Seminar ini membahas peran serta posisi perempuan dalam ranah sosial, agama, dan cinta. Maisyarah menyeru paham kesetaraan gender dengan sudut  pandang yang menarik.

Dalam paparannya, ia menyampaikan, identitas perempuan terbentuk dari perubahan biologis dan psikis. Mahasiswi ini meluruskan pandangan yang menyatakan wanita ditakdirkan untuk menata tetek bengek rumah tangga.

“Kita tidak hanya dilahirkan untuk itu,” tukasnya.

Ia menekankan, pentingnya posisi perempuan yang setara dengan laki-laki dalam ruang publik. “Perempuan berharga tahu kapan harus menempatkan diri,” tutur Maisyarah.

Kendati demikian, ia mengkritisi pemahaman keliru terhadap kesetaraan gender yang berdampak pada ketidakseimbangan peran rumah tangga hingga ranah sosial. “Perempuan sekarang egois, ingin lebih unggul dari laki-laki,” katanya.

Maisyarah menambahkan, keberhasilan perempuan terletak pada kemampuannya memahami konteks, bukan hanya sekedar menjadi serba bisa. “Orang independen bisa menyesuaikan, kalau egois semuanya ingin diatur sendiri,” jelasnya.

Ia memaparkan, ketidakseimbangan tersebut dapat membuat laki-laki kehilangan peran dan harga diri yang berujung lahirnya masalah baru. “Hal itu sering memicu terjadinya perselingkuhan,” ungkapnya.

Maisyarah menyinggung Surat Al-Ahzab ayat 33 dengan pendekatan kontekstual. “Keluar rumah untuk pendidikan, karier, dan keperluan penting itu tidak masalah,” imbuhnya.

Dalam penghujung sesi, pemateri mengajak peserta merefleksikan cinta dalam makna yang lebih luas. “Cinta bukan cuma urusan privat, tapi juga menyangkut kebebasan dan persamaan,” tutupnya. (ryn)

Wartawan: Fauziah Maharatih Wahyuni (Mg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Tri Widodo: Pemimpin Bukan Jabatan, Tapi Sikap

Next Post

Putra Ramadhani Ajak Mahasiswa Cari Alasan Untuk Tidak Berhenti Kuliah

Related Posts