Oleh: Nada Andini
Mahasiswa Hukum Keluarga UIN Imam Bonjol Padang
Dikala senja menyapa
Ribuan rasa menyeruak dibalik belahan asa
Kecewa, luka dan derita seakan tak sanggup menyapa
Terkunci sudah setiap perih hati di labirin rasa
Entah kapan asa menjemput bahagia
Ketika sabar hadiahkan kurma pada pengembara
Maka ku ikhlaskan dia mengembara
Hingga ku temukan titik terang sebuah rasa
Berhenti atau bertahan di gurun hati yang tersayat mati
Bagai laut mati tanpa penghuni bak hati terkunci mati oleh rasa tiada pasti
Berkelana hingga realita koarkan fakta
Bak mawar diterpa matahari
Layu sudah bunga-bunga hati
Memilih berhenti untuk menanti
Hingga kembali ku temukan bahagia pada hati yang berbeda nanti
Sepucuk rasa terukir indah
Kembali bergerilya menapaki singgasana
Memungut mimpi-mimpi yang telah terkubur mati
Tancapkan perisai hati hingga tak lekas mati
Pilar teronggok kokoh di palung hati
Memberi isyarat berhenti dan kembali menata hati
Bersujud pada hamparan bumi
Berjibaku di tanah suci mengingatkan pada Illahi
Menengadah meminta diri agar terhindar dari penyakit hati
Hingga sang Illahi menyapa hati yang kembali pulih
Surantih, 12 Januari 2022