Oleh: Miltahul Jannah (Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Padang)
Sore di kampus Universitas Negeri Padang (UNP) selalu ramai. Mahasiswa lalu-lalang selepas kuliah, sebagian berhenti sejenak membeli camilan di depan pintu gerbang kampus. Di antara penjual yang sabar menunggu pembeli, ada sosok perempuan muda yang membawa nampan berisi gorengan hangat. Dialah Selvita, mahasiswi Sastra Arab Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol yang sebentar lagi akan wisuda.
Sudah sejak akhir tahun, Selvita menjajakan gorengan di area kampus. “Awalnya malu, apalagi saya mahasiswa. Tapi karena kebutuhan, saya belajar untuk berani,” ujarnya sambil tersenyum meski tampak lelah (6/11). Ia memulai jualan sejak sore hari hingga malam, kadang melanjutkan ke kawasan Khatib Sulaiman agar dagangannya habis. Rutinitas ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-harinya, sebuah pengorbanan yang ia jalani demi selembar ijazah yang diimpikannya.
Bagi sebagian mahasiswa, berjualan di tengah kesibukan kuliah terasa mustahil. Namun bagi Selvita, itu adalah jalan untuk bertahan hidup. Ia berasal dari keluarga sederhana di kampung orang tuanya hanya berjualan ikan di pasar. Tekadnya untuk menempuh pendidikan tinggi di kota membuatnya rela merantau sejak duduk di bangku SMP. “Dulu orang tua nyuruh sekolah di kampung saja, tapi saya pengen ke kota. Saya pikir, kalau di kota peluang lebih besar buat lanjut kuliah, bahkan mungkin ke luar negeri,” kenangnya.
Perjuangan itu tak selalu mudah. Ia pernah melewati hari-hari berat tanpa kiriman uang dari kampung. “Sering gak makan di sekolah, cuma nahan lapar aja,” katanya lirih. Namun kelaparan itu justru menjadi pemicu semangatnya untuk bertahan. Ia mulai mencoba berbagai pekerjaan, menjadi penyuci rumah, guru mengaji, bahkan pernah menerima tawaran menjadi pengantar anak sekolah. Seluruh pekerjaan sampingan ini, betapapun kecil upahnya, menjadi fondasi bagi kemandiriannya. Ia tahu, jika ingin meraih mimpi yang besar, ia harus memulai dengan langkah kecil yang gigih. Tapi jualan gorenganlah yang paling lama ia tekuni.
Awalnya ia tidak tahu cara berdagang. Dengan modal kecil sekitar seratus ribu rupiah, ia membeli gorengan dari pemasok lalu menjualnya kembali. “Dulu pertama kali jualan tuh gugup banget. Cuma bisa ngomong pelan, ‘Mau beli gorengan, Kak?’,” ujarnya sambil menirukan gaya lamanya yang canggung. Namun, tanggapan baik dari para mahasiswa membuatnya lebih percaya diri. “Jarang ada yang merendahkan. Banyak yang malah kasihan dan dukung saya,” tambahnya.
Kini, berjualan bukan sekadar cara mencari uang, tapi juga bagian dari perjalanan hidupnya. Setiap hari selepas Ashar, ia menyiapkan dagangan di rumah tantenya di Gunung Pangilun tempat ia menumpang tinggal. Tantenya kerap membantunya, bahkan menitipkan gorengan untuk dijual bersama. “Kadang tante juga bantuin. Kalau gorengan gak habis, saya lanjut jual ke Khatib sampai malam,” ujarnya.
Pendapatannya tidak selalu besar. Jika dagangan habis, bersihnya sekitar 80 ribu sehari. Dari situ, sebagian ia sisihkan untuk kebutuhan kuliah dan sedikit ditabung. Ia tidak pernah mengeluh soal untung rugi. Baginya, yang penting bisa bertahan dan halal. “Yang penting halal, walau sedikit. Yang penting bisa lanjut kuliah,” katanya mantap. Uang hasil jualan ini, yang kadang terasa remuk karena harus dibagi untuk banyak kebutuhan, adalah bukti nyata dari keringat dan semangatnya yang tak pernah pudar.
Kini, di tengah kesibukannya menyiapkan wisuda, Selvita masih setia menjajakan gorengan di kampus. Mahasiswa yang dulu malu menawarkan jualannya kini dikenal ramah dan kuat. “Lebih baik susah cari uang daripada susah karena gak punya uang,” katanya memberi pesan. Ungkapan sederhana itu menggambarkan filosofi hidup yang ia pegang teguh.
Meski telah menyelesaikan kuliahnya, Selvita belum ingin kembali ke kampung halaman. Ia ingin tetap di Padang, mencari pekerjaan, dan membantu adik-adiknya agar bisa melanjutkan sekolah. Ia bertekad, kesulitan ekonomi yang ia alami tidak boleh terulang pada nasib adik-adiknya. Pendidikan adalah kunci, dan ia siap menjadi pintu pembuka bagi masa depan mereka. “Saya pengen adik-adik saya juga bisa kuliah. Kalau bisa, saya juga mau lanjut S2. Kalau ada rezeki, pengen juga ke luar negeri,” ujarnya penuh harap.
Hujan sore mulai turun, tapi Selvita tak beranjak. Nampan gorengan di tangannya masih separuh. Ia tersenyum kecil ketika seorang mahasiswa menghampiri dan membeli beberapa potong. Dalam lelah dan gigil, ada kebanggaan yang sulit disembunyikan kebanggaan atas kerja keras, atas setiap langkah kecil yang membawanya lebih dekat ke mimpi.
Kisah Selvita adalah potret nyata perjuangan mahasiswa yang menolak menyerah pada keadaan. Ia menunjukkan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Di balik aroma gorengan yang sederhana, tersimpan cerita tentang tekad, ketulusan, dan keyakinan bahwa setiap perjuangan pasti berbuah hasil. Mungkin bukan hari ini, tapi pasti suatu hari nanti. Mimpi besarnya untuk melanjutkan studi ke luar negeri tetap menjadi kompas yang menuntunnya, sebuah harapan yang memberinya kekuatan untuk berdiri tegak di tengah hujan, sambil menjajakan setiap potong gorengan.