Oleh : Muhammad Adam
(Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah)
Pagi itu, matahari baru saja muncul menusuk atap-atap rumah Arsa yang bolong. Embun masih menempel di ujung daun pisang ketika Arsa melangkah keluar rumah. Di kakinya, terpasang sepasang sendal jepit biru yang warnanya sudah pudar. Di bagian tumit, sendal itu tampak lebih tipis karena terlalu sering diseret dan sepasang paku di bawah untuk mengganjal sendal agar bisa di bawa berjalan. Meski begitu, Arsa selalu menyebutnya sendal legendaris satu-satunya alas kaki yang setia menemaninya ke mana pun.
Arsa bukan anak yang manja. Sejak ayahnya sakit dan ibunya hanya berjualan gorengan kecil-kecilan, ia sadar bahwa hidup tak bisa hanya diisi dengan mengeluh. Setiap hari sepulang sekolah, Arsa mencari cara untuk mendapatkan uang. Kadang ia membantu tetangga mencuci motor, kadang mengangkat belanjaan di pasar, atau mengumpulkan botol bekas untuk dijual ke pengepul.
Sendal legendaris itu menjadi saksi perjuangannya. Sendal itu menapak di jalanan panas pasar, becek di pinggir selokan, hingga berdebu di lapangan tempat Arsa membantu pedagang mainan. Pernah suatu hari, tali sendalnya putus. Arsa hanya tersenyum kecil, mengikatnya dengan menusukkan paku di bawahnya, lalu melanjutkan langkahnya.
“Yang penting masih bisa jalan,” gumamnya pelan.
Suatu sore, Arsa membantu seorang pedagang tua mendorong gerobak yang rodanya macet. Peluh mengalir di dahinya, sendalnya kotor oleh lumpur. Setelah selesai, pedagang itu menyelipkan uang ke tangan Arsa.
“Terima kasih, Nak. Semoga kamu jadi orang besar,” katanya tulus.
Arsa menatap uang itu lama. Jumlahnya tak seberapa, tetapi cukup untuk membeli beras dan telur di rumah. Saat berjalan pulang, ia menatap sendal di kakinya. Sendal yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain, namun baginya adalah simbol keteguhan.
Malam itu, Arsa menyimpan uang hasil kerjanya di kaleng kecil di bawah tempat tidur. Ia tersenyum, membayangkan suatu hari nanti bisa membeli sepatu baru dari hasil jerih payahnya sendiri. Namun untuk saat ini, ia tak malu mengenakan sendal legendarisnya.
Karena Arsa tahu, bukan sendalnya yang membuatnya berharga, melainkan langkah-langkah kecil penuh usaha yang ia tempuh setiap hari.