Titok Priastomo: Elit Sekuler Indonesia Ubah Arah Kepemimpinan Nasional

Titok Priastomo saat menyampaikan kajian DAKWAH IDEOLOGIS episode 11 bertema “Lahirnya Elit Nasionalis Sekuler di Indonesia” melalui Live Eksklusif Zoom, Jumat (29/8/2025). Foto: Najwalin Syofura/Suarakampus.com.

Suarakampus.com– Kajian Dakwah Ideologis episode 11 membahas lahirnya elit nasionalis sekuler di Indonesia yang menghadirkan akademisi Titok Priastomo melalui Zoom pada Jumat (29/08). Acara ini menyoroti transformasi elit intelektual sejak awal abad ke-20 hingga pascakemerdekaan.

Titok Priastomo menuturkan, pada awal abad ke-20 muncul elit intelektual yang sejajar dengan kaum kulit putih di Indonesia. “Saat itu lahir golongan baru yang perlahan mengambil peran dalam pergerakan nasional,” katanya.

Menurut Titok, perbedaan mendasar antara elit masa kini dan sebelumnya terletak pada asal-usul sosial. Elit terdahulu berasal dari kalangan priyayi dan bangsawan, sementara generasi baru lahir dari kaum terpelajar.

Akademisi tersebut menyampaikan, pergeseran ini menandai lahirnya kepemimpinan modern. “Elit sekarang hadir dari hasil pendidikan, bukan sekadar legitimasi darah biru,” ucapnya.

Titok juga menjelaskan, dalam perumusan dasar negara, kelompok sekuler menunjukkan sikap berbeda dengan kelompok religius. Soepomo menolak usulan Ki Bagus Hadikusumo untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara.

Ia mengutip alasan Soepomo yang menekankan pentingnya keberagaman agama. “Karena masyarakat Indonesia menganut berbagai keyakinan, maka negara harus bersifat inklusif,” ujar Titok.

Narasumber itu menambahkan, pandangan Soepomo turut dipengaruhi oleh gagasan Mohammad Hatta. Namun, teks pidato Hatta yang dimaksud hingga kini belum berhasil ditemukan para sejarawan.

Tokoh Sukarno juga disebut sebagai representasi kuat elit sekuler Indonesia. “Sukarno adalah sosok intelektual politikus yang berhaluan sekuler sejak pra kemerdekaan hingga setelahnya,” jelas Titok.

Ia menguraikan, orientasi sekuler Sukarno terlihat dari kekagumannya pada reformasi Turki Muda dan Mustafa Kemal Ataturk. “Sukarno menilai reformasi itu bukan upaya menindas agama, melainkan membebaskan dan menyuburkan Islam,” ungkapnya.

Selain itu, Titok menyoroti peran elit sekuler dalam pengembangan bahasa nasional. Mereka mendirikan lembaga bahasa untuk menyusun bahasa Melayu menjadi lebih praktis dan standar.

Akademisi tersebut menekankan, lembaga tersebut kemudian diwariskan pada era kemerdekaan dan berkembang menjadi Balai Pustaka. “Bahasa dijadikan alat pemersatu bangsa Indonesia,” tutup Titok. (ver)

Wartawan: Najwalin Syofura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Ratusan BEM SI Desak Reformasi Polri dan Usut Kematian Affan Kurniawan

Next Post

Ribuan Massa Gelar Aksi, Tuntut Pertanggungjawaban Kepolisian Atas Tewasnya Driver Ojol

Related Posts