Oleh : Anisa Fitri Tara
(Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam)
Kerajaan Laut Utara dipimpin oleh seorang raja bernama Culah, sosok yang dikenal rakyat sebagai pemimpin baik hati dan dermawan. Namun, di balik senyum dan pidato manisnya, ia menyimpan hati yang busuk dan wajah kepura-puraan. Selama lima tahun masa pemerintahannya, tak seorang pun mampu menjelaskan mengapa desa-desa di kerajaan itu terus dilanda kekurangan makanan.
Di balik lumbung-lumbung yang kosong, tersembunyi penderitaan rakyat yang tak pernah sampai ke telinga istana. Pintu lumbung terbuka lebar, namun isinya hanya debu dan angin. Anak-anak menangis kelaparan, para ibu mengaduk periuk kosong dengan mata sembab, berharap ada keajaiban yang datang.
Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ibarat menunggu hujan di tengah kemarau panjang, rakyat hanya bisa bertahan dengan harapan yang kian menipis. Ada rasa ganjil yang terus mengendap seolah kebusukan itu nyata, tetapi sengaja ditutupi.
Pada suatu malam, seorang ibu tua terduduk di depan rumah reyotnya. Tangannya gemetar memegang semangkuk nasi terakhir. Air matanya jatuh perlahan, bukan karena lapar yang ia rasakan, melainkan karena ia tak sanggup melihat anak-anaknya tidur dengan perut kosong. Dari kejauhan, seorang pemuda bernama Karang menyaksikan pemandangan itu dalam diam.
Karang dikenal sebagai pemuda miskin, pemabuk, dan pemalas. Ia sering keluar larut malam dan pulang saat matahari terbit dengan wajah babak belur serta membawa dua botol minuman keras. Tak ada yang tahu bahwa botol-botol itu tak pernah ia minum.
Setiap malam, Karang memecahkan botol-botol alkohol itu di jalanan gelap. Pecahannya berserakan, berkilau di bawah cahaya bulan seperti simbol kebusukan yang ia hancurkan sedikit demi sedikit. Ia membersihkan kekacauan yang ditinggalkan Raja Culah saat mabuk, lalu membagikan makanan dari hasil kerja kerasnya sendiri kepada warga yang kelaparan.
Sementara lumbung rakyat kosong, meja istana Raja Culah selalu penuh. Anggur mengalir, daging terhidang, dan tawa bergema di balik dinding istana yang kokoh.
Ketika masa pemilihan raja kembali tiba, Raja Culah mencalonkan diri dengan janji yang sama. Pada hari pemilihan, Karang pun maju. Rakyat menertawakannya. “Berkacalah, Karang! Mengurus dirimu sendiri saja tak bisa, apalagi mengurus kerajaan!” ejek mereka sambil tertawa.
Karang tak membalas. Ia memilih diam dan membiarkan kebenaran menemukan jalannya sendiri. Dua minggu sebelum pengumuman, rahasia yang selama ini tersembunyi akhirnya terbongkar. Gudang istana ditemukan penuh dengan hasil bumi yang dirampas dari rakyat. Raja Culah terbukti sebagai pengkhianat yang menukar kesejahteraan rakyat dengan kesenangan pribadi.
Raja Culah dijatuhkan. Karang diangkat menjadi raja Kerajaan Laut Utara dan menikah dengan putri dari Kerajaan Kutub Timur.
Dua tahun setelah Karang memerintah, lumbung-lumbung yang dahulu kosong kini terisi penuh. Tak ada lagi botol alkohol yang pecah di jalanan, karena tak ada lagi mabuk dan kepura-puraan. Rakyat hidup damai, tanah kembali subur, dan keadilan akhirnya tumbuh.
Di balik lumbung yang kosong, kebenaran pernah disembunyikan.
Dan di balik hinaan, seorang pemimpin sejati diam-diam dilahirkan.