Dilema Pendidikan Indonesia antara Kertas dan  Paperless

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Oleh Alfikri 
(Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang)

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mencapai kemajuan bangsa  yang paling mudah untuk diusahakan. Untuk mencapai kemajuan tersebut tentunya sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika pendidikan merupakan salah satu faktor yang membuat kemajuan bangsa itu dapat direalisasikan. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih memiliki banyak problem dalam pendidikan, mulai dari mutu pendidikan yang masih jauh tertinggal dari bangsa lain hingga sistem pendidikan yang memberikan sumbangsih yang terbilang cukup besar terhadap eksploitasi hutan. 

Seperti yang kita ketahui bersama, proses pendidikan formal di Indonesia masih menggunakan kertas sebagai media untuk proses pembelajaran, mulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga perguruan tinggi tidak bisa dilepaskan dari yang namanya kertas. Kebutuhan akan kertas akan terus meningkat seiring meningkatnya pendidikan seseorang. Dikutip dari data statistik Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemdikbud), jumlah siswa seluruh Indonesia berjumlah 44.923.177. Dengan jumlah yang banyak itu harmonisasi kertas dan pendidikan menjadi suatu hal yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam dunia pendidikan. Tentunya proses panjang dan berkelanjutan ini membuat industri kertas di Indonesia semakin meningkat dan membuat sektor ini menjadi sektor penting penghasil devisa negara. Tetapi, untuk mencapai proses panjang seperti ini ada harga yang sangat tidak ternilai yang harus kita bayarkan yakni kerusakan alam.

Seperti kehilangan pasokan oksigen dan bertambahnya karbon dioksida karena tidak ada pohon yang menyuplai oksigen dan membersihkan karbon dioksida tersebut. Belum lagi polusi udara yang membuat keadaan semakin parah, disamping itu kerugian dari sisi bencana alam juga akan kita rasakan akibat hutan gundul seperti banjir, tanah longsor, matinya flora dan fauna dan sebagainya. Itu semua terjadi hanya karena kertas, belum lagi penggunaan hutan untuk industri selain kertas.

Kertas memang berasal dari bahan terbarukan yaitu pohon. Namun permintaan pasar yang sangat cepat sangat berbanding terbalik dengan waktu memanen pohon sebagai bahan baku kertas yang terbilang cukup lama, dibutuhkan waktu bertahun tahun untuk bisa memanen kayu untuk bahan kertas sementara permintaan pasar terus meningkat.

Alhasil, perusahan perusahaan industri kayu harus memutar otak untuk mencari lahan baru. Inilah yang menyebabkan timbulnya banyak masalah seperti penebangan liar, eksploitasi hutan tanpa usaha pemulihan kawasan tersebut, konflik antara pelaku industri kertas  dengan masyarakat ataupun konflik dengan aktifis lingkungan dan sebagainya.

Melihat tingginya konsumsi kertas di Indonesia khususnya dalam dunia pendidikan. Pembatasan penggunaan kertas menjadi sebuah kemustahilan. Bahkan istilah paperless, yakni upaya atau gerakan menghemat penggunaan kertas dengan mengganti kertas dengan media digital sepertinya sulit untuk direalisasikan mengingat berbagai keterbatasan dan persoalan.

Ada beberapa pertimbangan yang mendasari penggunaan kertas sampai saat ini masih menjadi hal yang mustahil untuk dikurangi. Pertama dari sisi kesehatan penggunaan kertas dirasa lebih sehat dari pada penggunaan teknologi seperti gadget. Penggunaan gadget yang begitu lama dapat memicu berbagai macam penyakit seperti kerusakan mata akibat radiasi, keluhan otot dan mungkin yang lebih parah bisa menyebabkan kangker. Meskipun begitu penggunaan media cetak seperti koran, majalah dan lainnya juga tidak menutup kemungkinan membuat kita terbebas dari penyakit seperti posisi membaca yang salah, intensitas cahaya yang kurang juga dapat mempengaruhi kesehatan mata. Kedua dari segi efektifitas, pada dunia perguruan tinggi misalnya, ketika konsultasi dengan dosen penggunaan kertas sangat memudahkan dalam proses penandaan bagian yang perlu direvisi, mahasiswa juga bisa melihat secara langsung bagian mana yang direvisi oleh dosen secara langsung. Namun ketika menggunakan laptop ataupun gadget,setidaknya memerlukan dua alat yang akan digunakan oleh dosen dan juga oleh mahasiswa hal ini juga menuntut mahasiswa untuk cekatan dalam mengikuti pembahasan dosen agar tidak ketinggalan pembahasan.

Dari sisi paperless sendiri, yang dianggap sebagai sebuah revolusi besar dalam dunia pendidikan. Ada beberapa keuntungan yang juga bisa dijadikan pertimbangan untuk penerapannya meskipun hal tersebut harus dilakukan secara berkala. Pertama, konsep yang menawarkan pendekatan elektronik dalam penerapannya ini mampu mengurangi sampah. Kedua meminimalisir biaya yang selama ini dikeluarkan seperti foto kopi, percetakan dan biaya lain. Ketiga, mampu mengefektifkan waktu seperti memudahkan proses administrasi yang selama ini menghabiskan waktu yang cukup lama. 

Namun terlepas dari beberapa keuntungan yang ditawarkan, penerapan paperless dalam sistem pendidikan membuat pekerjaan rumah bagi seluruh lapisan bertambah. Dari sisi pemerintah, kesiapan SDM untuk mengelola kemajuan digital ini perlu menjadi perhatian khusus. Dari sisi masyarakat hendaknya masyarakat mulai untuk melek akan teknologi agar tidak kesulitan untuk beradaptasi dengan pembaharuan yang terjadi.

Namun inilah yang masih menjadi dilema dalam dunia pendidikan Indonesia saat sekarang ini. Melanjutkan penggunaan kertas dalam keseharian yang berpotensi memberikan sumbangsih terhadap kerusakan bumi terutama hutan atau mulai mencoba beradaptasi dengan kemajuan teknologi dengan penerapan paperless dalam dunia pendidikan. 

Kita tidak dapat menyalahkan satu atau dua pihak saja untuk kasus yang problematik dan penuh dengan dilema ini. Semua pihak harus berupaya untuk terus menerus mencari solusi bukan hanya bertahan untuk memperpanjang konflik.

Meskipun penerapan teknologi menciptakan cara baru dalam dunia pendidikan, namun eksistensi kertas juga tidak bisa kita hilangkan sepenuhnya. Hendaknya teknologi dan kertas memiliki keselarasan dalam penerapannya sehingga terciptanya simbiosis mutualisme antara keduanya. Untuk terciptanya hal yang demikian diperlukan kerja sama dari semua pihak. Bagaimana eksistensi kertas tetap terjaga dalam dunia pendidikan tanpa merusak alam dan teknologi bisa diterapkan tanpa memudarkan eksistensi dari kertas itu sendiri.




Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Tingkatkan Solidaritas, FTK Gelar Pelantikan Ormawa Serentak

Next Post

Mahasiswa Keluhkan Minimnya Akses Internet di Kampus III UIN IB

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty