Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinologi: Vaksin Aman untuk Direalisasikan

Suasana Webinar Fakta Penting Vaksin Covid-19 (Foto; Nada Andini/suarakampus.com).

Suarakampus.com- Memasuki awal tahun 2021 hoaks mengenai vaksin Covid-19 sudah banyak tersebar di berbagai media sosial. Mulai dari isu vaksin yang mengandung bahan berbahaya, sehingga menimbulkan pro dan kontra di masyarakat terkait kehalalannya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinologi, Dirga Sakti Rambe mengatakan 0,1 hingga 1 persen vaksin Sinovac sangat aman untuk direalisasikan dan rendah efek samping. “Saya sendiri telah divaksin pada tanggal 12 kemarin dan akan divaksin kembali besok,” katanya, Kamis (28/01).

Lanjutnya, seseorang dinyatakan lengkap vaksinisasinya ketika sudah dua kali divaksin dengan selang waktu 14 hari, antibodi dan kekebalan akan muncul 28 hari setelah suntikan kedua.

Vaksin memiliki satu keunggulan yang bisa memberikan perlindungan berupa kekebalan yang bersifat spesifik untuk pencegahan Covid-19. “Meskipun demikian penting juga tetap menerapkan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak,” tuturnya.

Dirga juga menjelaskan, apabila vaksin mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah dipastikan itu aman dan efektif digunakan. Pada saat penyuntikan vaksin akan terjadi proses pengenalan oleh tubuh terhadap vaksin yang antigen.

“Reaksi yang sering ditemukan setelah vaksinasi seperti nyeri pada bekas suntikan, rasa kantuk, lapar, demam, serta lemas, hal ini semua sangat wajar,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Vaksinologi itu.

Manager Komisariat Sosial Politik (Komsospol) Tim Komunikasi Publik Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi (KPCPEN) Ika Ardina menuturkan juga bekerja sama dengan Departemen Kesehatan melakukan beberapa program vaksinasi. “Memanfaatkan beberapa platform digital baik media sosial maupun media konvensional agar dapat meminimalisir terjadinya penyebaran berita hoaks,” ungkapnya.

Ika menuturkan bahwa Divisi Komsospol berinteraksi langsung dengan para Tenaga Kesehatan (Nakes) dan juru bicara di daerah untuk memberikan pelatihan. “Agar mereka dapat melakukan komunikasi antar sesama rekan kerja untuk tetap menyampaikan informasi yang tepat dan benar kepada masyarakat,” terangnya.

Kendala yang sangat besar dalam mensosialisasikan vaksin kepada masyarakat adalah ketika berita hoaks lebih cepat menyebar dan orang-orang lebih senang mendengar dan mendapatkan kabar itu. “Angka kepercayaan masyarakat terhadap vaksin turun sekitar 30 persen,” tambahnya.

“Kita bekerja sama dengan pihak Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Cek Fakta serta Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk melakukan edukasi kepada masyarakat memberikan klasifikasi terhadap berita hoaks yang beredar,” tutupnya. (rta)

Wartawan: Nada Andini (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Masyarakat 50 Kota Adukan Pembangunan Jalan Tol Padang-Pekanbaru ke Ombudsman

Next Post

Tantangan dan Solusi Pembelajaran Jarak Jauh bagi Anak-anak

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty