Mengenal Catatan Sejarah Masjid “Tertua” di Kota Padang

Masjid Raya Gantiang dikenal masyarakat sebagai Masjid Tertua di Kota Padang (Foto: Lisa/Suarakampus.com)

Suarakampus.com- Minangkabau begitu kental dengan sejarah dan budaya, tak terkecuali dengan bangunan. Banyak tempat-tempat menarik yang patut dikunjungi lantaran memiliki unsur dan keunikannya sendiri, termasuk Masjid Raya Ganting yang merupakan rumah ibadah umat muslim tertua di kota Padang.

Masjid ini terletak di Jalan Gantiang No.10, Kelurahan Gantiang Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat. Terletak tidak jauh dari pusat kota, pengunjung pastinya tidak begitu sulit menemukan masjid bersejarah tersebut.

Masjid Raya Ganting mulai dibangun pada tahun 1805 dan selesai tahun 1810. Adapun Angku Gapuak yang merupakan pedagang di Pasar Gadang, Angku Syekh Umar seorang pimpinan kampung dan Angku Syekh Kapalo Koto yang berprofesi sebagai ulama menjadi penggagas berdirinya masjid ini.

“Mereka pada saat itu digelari dengan tigo tungku sajarang,” ucap seorang pengurus Masjid Raya Ganting, Haji Munandar.

Ia menuturkan, pembangunan masjid pertama di kota Padang sempat dilakukan di tepi Batang Arau, tepatnya di kaki Gunung Padang. Namun pemerintah Hindia Belanda mengambil langkah cepat dengan menghancurkan masjid tersebut.

“Pemerintah Belanda menghancurkannya dengan dalih pembuatan jalan ke pelabuhan Emma Even, yang saat ini dikenal dengan nama Teluk Bayur,” terangnya.

Munandar melanjutkan, masjid ini memiliki ciri khas tersendiri di mana dibangun dengan arsitektur bergaya Neo Klasik Eropa. Masjid ini terdiri dari dua menara dengan satu kubah utama serta 25 buah tiang penyangga.

“Tiang ini melambangkan 25 nabi dan rasul yang ada di dalam agama Islam,” tuturnya, Selasa (08/06)

Banyak sejarah unik yang mengiringi berdirinya masjid hingga saat ini. Berdasarkan dokumen yang diberikan pengurus mesjid, wartawan suarakampus.com mencoba menghimpun beberapa peristiwa penting di Masjid Raya Ganting, di antaranya:

Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau Tahun 1803
Saat itu, sedang gencar-gencarnya proses penyebaran agama Islam di bumi Minang. Hal tersebut terlihat pada pertemuan beberapa tokoh adat maupun ulama untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh dalam melaksanakan pemurniah ajaran Islam.

Sebab, masih banyak ajaran mistik dan kufarat yang berkembang di tengah masyarakat, terutama ajaran Hindu-Budha yang sebelumya menjadi kepercayaan sebagian besar masyarakat Minangkabau.

Gempa dan Tsunami di Padang Tahun 1883
Kota Padang sempat dilanda gempa dan tsunami pada akhir abad ke-19. Uniknya, masjid yang pada saat itu masih berbentuk sederhana selamat dari hantaman tsunami. Hanya saja, terdapat kerusakan pada lantai masjid.

Embarkasi Haji Pertama di Sumatra Tengah
Seiring mulai berfungsinya Pelabuhan Emma Heven (Teluk Bayur) saat itu, Masjid Raya Gantiang menjadi tempat pertama di Sumatra Tengah untuk embarkasi calon jamaah haji.

Sekolah Thawalib Pertama di Kota Padang
Ayah Buya Hamka, Syekh Haji Karim Amrullah dikenal sebagai pendiri sekolah thawalib di Padang Panjang. Beliau bahkan juga sempat mendirikan sekolah yang sama di perkarangan Masjid Raya Gantiang sebagai pusat pendidikan masyarakat Padang saat itu.

Saat itu, sekolah ini menghadirkan alumni cukup handal yang menginisiasi berdirinya Persatuan Muslimin Indonesia (Permi)yang merupakan cikal bakal lahirnya Partai Masyumi.

Tempat Mengungsi Bung Karno
Soekarno sempat menginap di rumah pengurus Masjid Raya Gantiang setelah dijemput oleh Hizbul Wathan menggunakan pedati dari Painan. Hal tersebut diceritakan bahwa Soekarno sempat menjadi tahanan Belanda di Bengkulu.

Sejatinya, Belanda telah memutuskan untuk mengungsikan Soekarno di Aceh. Namun setelah mendapat informasi keberadaan Jepang sudah memasuki Bukittingi, Belanda meninggalkan begitu saja Soekarno di Painan. Momen tersebut menjadi kesempatan berharga masyarakat Indonesia untuk mengamankan beliau dari marabahaya penjajah.

***

Di masa sekarang, bangunan ini digunakan bukan hanya untuk ibadah semata, namun juga sebagai tempat pengajaran agama serta lapak untuk melakukan pesantren kilat. Bahkan, saat ini sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Indonesia.

Bangunan Masjid Raya Ganting masih terawat dengan baik, kendati telah melakukan beberapa kali renovasi dengan tidak menghilangkan keaslian mesjid. “Kami melakukan renovasi seperti atap mesjid serta melakukan pengecatan pada mesjid agar tetap terawat,” terang Munandar kepada wartawan suarakampus.com.

“Perubahan cat masjid dengan warna biru putih ini didasarkan pada cat mesjid pada tahun 90-an,” tutup dia. (red)

Wartawan: Lisa Septi

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

UIN IB Raih Harapan II Lomba Debat Konstitusi, STAIN Bengkalis Berjaya

Next Post

Menyoal Kekerasan Terhadap Pers yang Terus Mengalami Peningkatan

Related Posts
Total
0
Share