Profil › Tokoh


Ayahnya Profesor / Drs. Sudirman S. Ag Tuangku Nan Gadang



Mengabdi dengan konsep keayahan. Mendidik, membina, mengajar dan membimbing  seorang anak untuk meraih kesuksesan. Itulah konsep yang digunakan Drs. Sudiman, M.Ag selama 42 tahun mengabdi di IAIN Imam Bonjol Padang.

 

Ayah hanya sebagai dosen biasa di IAIN selama 42 tahun, namun sudah banyak yang ia berikan untuk IAIN. Memang bukan bersifat materi tetapi ilmu yang ia miliki, sifat kepemimpinan dan sosok keayahannya membuat dia dikenang dan menjadi idola. Ayah bukan lah seorang profesor tetapi ayah adalah ayahnya profesor di IAIN.

 

Selama 42 tahun mengabdi, telah banyak mahasiswa dan muridnya yang sudah menjadi profesor. Sebut saja, Prof. Dr. Sirajuddin Zar, MA Rektor IAIN sekarang, Prof. Dr. Salmadanis, MA, Prof. Dr. Tasman Ya’cub, M.Ag, Prof. Edi Safri dan masih banyak profesor lain yang ada di IAIN Imam Bonjol ini.

 

Meski beliau tidak mempunyai pangkat dan jabatan yang tinggi, namun beliau tetapi mereka tetap tunduk dan hormat kepadanya. Beliau menjadi tempat  bertanya dan mencari solusi. Dengan sifat keayahannya itu lah beliau menjadi seorang yang tak terlupakan.“Ternyata mahasiswa saya tidak hanya berhasil di IAIN, tetapi juga diluar sana. Misalnya, PR I UIN Syarif Hidayatullah, dia tidak lupa dengan ayah sampai saat ini, bibirnya masih saja sering mengenang ayah,” kenang ayah dengan mata berbinar.

 

Mengajar dan membina  mahasiswa dengan caranya sendiri. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan pangkat penata III golongan 3/b membuat dia hidup dalam kesederhanaan. Bukan tidak menginginkan pangkat atau golongan yang lebih tinggi tetapi ia lebih memilih untuk menjadi pegawai biasa. “Ini lebih baik bagi ayah, dari pada memberikan risywah untuk naik pangkat,” tegas ayah. Sebuah prinsip yang matang yang selama ini ayah dipegang.

 

Banyak pengalaman yang telah dilalui ayah selama berada di IAIN, tidak hanya menjadi dosen di bangku perkuliahan tapi juga menjadi Dosen Pembina Lapangan (DPL) KKN yang sudah 33 tahun ia lakoni. Sejak tahun 1979, terhitung dari KKN angkatan III sampai angkatan XXVI saat ini.

 

Dalam usia dirembang petang, ayah tetap semangat menjalani profesinya, menjadi DPL memberikan banyak pengalaman yang berharga baginya. Ia selalu siap ditempatkan dimana saja dan ia lebih suka ditempatkan di lokasi terpencil.

 

Seperti tahun ini, ia mendampingi mahasiswa KKN di Kabupaten Solok Selatan. Tepatnya di daerah perbatasan Kab. Solsel dengan Kerinci. Hal tersebut tidak membuat ayah surut niatnya menjadi DPL, malahan ayah menyukai hal tersebut. Beliau menganggap semua itu adalah tantangan.

 

“Ayah bersedia ditempatkan dimana saja apalagi daerah terpencil, karena ayah suka dengan tantangan dan pengabdian ini didasari dengan keikhlasan dalam berdakwah kepada masyarakat,” ujar ayah delapan anak ini, Rabu (28/07/2010).
Banyak pengalaman  yang telah didapatkan lelaki kelahiran Desember 1946 selama pengabdiannya di IAIN, terkhusus menjadi Dosen pembimbing Lapangan (DPL).

 

Hampir seluruh kawasan di Sumatera Barat pernah dijajaki. Ayah memberikan istilah untuk pengalamannya, “berpatisipasi untuk masyarakat seperti tugas maelo rambuik dalam tapuang,”. Artinya, memberikan ilmu  kepada masyarakat dan menuntun mereka kepada kebaikan tanpa mengganggu dan merusak ekosistem kehidupan bermasyarakat yang telah mereka jalani juga tidak merubah kebiasaan yang sudah menjadi ciri khas daerah tersebut.

 

“IAIN sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk mensosialisasikan dan memberikan ilmu pengetahuan islam kepada masyarakat, harus kontineu melakukan kunjungan ke daerah-daerah supaya pengabdian yang IAIN lakukan bisa dirasakan oleh masyarakat. Seperti niniak mamak yang perlu dibekali dengan pengetahuan yang bernuansa religi untuk memperbaiki adat yang sudah jauh dari syarak sehingga nilai-nilai adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah tidak pudar dari masyarakat minang kabau ini,” jelas ayah kepada Suara Kampus.

 

Ayah berharap agar mahasiswa harus cerdik seperti niniak mamak, tahu seperti ulama, pandai seperti tokoh masyarakat sehingga terwujud falsafahnya adat minang yaitu “tungku tigo sajarang”. (Syofia Fitri & Hendra)